Islam, Radikalisme, dan Terorisme


Oleh Ahmad Saifuddin*
Radikalisme atas nama agama tidak akan pernah habis dibicarakan. Sampai saat ini, berita-berita harian baik media televisi maupun di media cetak, sebagian masih diisi dengan berita terorisme. Belum lagi mengenai konflik-konflik di Timur Tengah yang salah satunya disebabkan oleh pemahaman yang fundamental dan radikal terhadap permasalahan politik, keagamaan dan kehidupan. <>Pada akhir tahun 2015, Densus 88 mengadakan penangkapan terduga teroris di beberapa daerah, misalkan di Cilacap, Sukoharjo, Mojokerto, dan Bekasi. Sebagian elemen di Indonesia pun secara terang-terangan menolak keberadaan aliran radikal atas nama agama.

Di sisi lain, banyak kelompok radikal atas nama agama yang hendak mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945 dengan khilafah, meskipun NKRI dan UUD 1945 merupakan produk dari ulama-ulama Indonesia yang berjuang melawan dan mengusir penjajah, sampai merumuskan dasar negara dan bentuk negara Indonesia ini.

Metamorfosis

Sejatinya, radikalisme atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada sampai kelak. Salah satunya hadits yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirah (HR Bukhari 3341, HR Muslim 1773) dan hadits yang menceritakan mengenai ciri-ciri kelompok radikal (HR Bukhari nomor 7123, Juz 6 halaman 20748; Sunan an-Nasai bab Man Syahara Saifahu 12/ 474 nomor 4034; Musnad Ahmad bab Hadits Abi Barzakh al-Aslami 40/ 266 nomor 18947).

Dalam sejarah perkembangan Islam, dikenal kemudian firqah yang bernama Khawarij. Khawarij ini muncul sebagai respon ketidakksepakatan terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang ditempuh Khalifah ‘Ali Ibn Abu Thalib dalam penyelesaian peperangan Shiffin dengan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam perjalanannya, Khawarij ini dapat ditumpas. Namun, pemikirannya bermetamorfosis dalam berbagai bentuk firqah. Sehingga, sampai sekarang pun masih banyak ditemukan pemikiran yang benar-benar fanatik, tekstual, dan fundamental. Kalangan yang pendapatnya berbeda dengannya maka akan diberikan stempel “kafir”, “bid’ah”, dan “sesat”.

Dalam tataran kenegaraan pun, juga terdapat kelompok radikal yang selalu mengangkat isu khilafah (satu pemerintahan atas nama Islam). Setiap permasalahan negara selalu dibawa ke ranah khilafah. Bahkan, ada kalangan yang menganggap pemerintahan selain khilafah adalah thaghut. Meskipun, bentuk negara ini merupakan perkara yang ijtihadi (diperlukan ijtihad dan tidak mutlak).

Kalangan-kalangan radikal ini pun sangat gencar menyuntikkan paradigma-paradigmanya sehingga tidak sedikit kalangan muda yang terbius oleh paradigma-paradigma semu tersebut. Didorong oleh pahala dan surga, kalangan muda banyak yang mendukung gerakan-gerakan radikal tersebut. Bahkan, banyak kalangan muda yang bersedia menjadi pihak bom bunuh diri.  Ironisnya, bekal keagamaan mereka pun belum dapat dikatakan mencukupi (belum ‘alim dan faqih), namun mereka sudah gencar berdakwah atas perspektif yang mereka pelajari sendiri. Model gerakan mereka pun sangat masif dan terkoordinir dengan baik sehingga mampu memengaruhi hampir seluruh lapisan masyarakat. Sehingga, paradigma ini harus menjadi perhatian serius.

Akar masalah

Scott M. Thomas (2005) dalam bukunya The Global Resurgence of Religion and The Transformation of International Relation, The Struggle for the Soul of the Twenty-First Century halaman 24 mengemukakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal biasanya terkait dengan faktor ideologi dan agama. Istilah radikalisme adalah hasil labelisasi terhadap gerakan-gerakan keagamaan dan politik yang memiliki ciri pembeda dengan gerakan keagamaan dan politik mainstream. Gerakan radikalisme yang terkait dengan agama sebenarnya lebih terkait dengan a community of believers ketimbang body of believe.

Ernest Gelner (1981) dalam bukunya Muslim Society halaman 4 mengatakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal yang dikaitkan dengan komunitas Muslim dipahami sebagai cara  bagi komunitas Muslim  tertentu dalam mengembangkan nilai-nilai keyakinan akibat desakan penguasa, kolonialisme maupun westernisasi. Di lain pihak, Mudhofir dan Syamsul Bakri (2005) menjelaskan dalam bukunya Memburu Setan Dunia, Ikhtiyar Meluruskan Persepsi Barat dan Islam tentang Terorisme halaman 93—95 bahwa radikalisme modern muncul biasanya disebabkan oleh tekanan politik penguasa, kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan implementasinya di dalam kehidupan masyarakat serta sebagai respon terhadap hegemoni Barat.

Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999–2004, dalam buku Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia (2009), setidaknya ada tiga teori yang menyebabkan adanya gerakan radikal dan tumbuh suburnya gerakan transnasional ekspansif. Pertama, adalah kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Kedua, adalah dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Kashmir, dan Palestina. Ketiga, dalam lingkup Indonesia, adalah kegagalan negara mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.

Dalam suatu artikelnya, Adian Husaini (2004) mengutip dan menganalisis beberapa pendapat Samuel P. Huntington yang menulis buku berjudul “Who Are We? : The Challenges to America’s National Identity” pada tahun 2004. Huntington menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam – yang ia tambah dengan predikat “militan”. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi “Islam militan” melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.

Hal ini membuktikan bahwa Islam secara tidak langsung diciptakan (dijebak) sebagai teroris sehingga persepsi terhadap Islam pun menjadi buruk dan mengerucut bahwa Islam adalah teroris. Definisi “Islam militan” yang tanpa batasan tersebut kemudian merugikan umat Islam secara keseluruhan.

Radikalisme dan terorisme

Radikalisme atas nama agama ini tidak jarang kemudian menimbulkan konflik sampai pada puncaknya, yaitu terorisme dalam taraf membahayakan stabilitas dan keamanan negara. Pada akhirnya, radikalisme ini menyebabkan peperangan yang justru menimbulkan rasa tidak aman. Pada taraf terendah, radikalisme sampai mengganggu keharmonisan dan kerukunan masyarakat. Klaim “sesat”, “bid’ah”, dan “kafir” bagi kalangan yang tidak sependapat dengannya membuat masyarakat menjadi resah. Ironisnya, keresahan tersebut dianggap sebagai tantangan dakwah oleh kaum radikalis.

Permasalahan radikalisme dan terorisme yang saling keterkaitan ini pun sangat kompleks. Buku Samuel P. Huntington tersebut mempengaruhi AS untuk menciptakan Islam militan sebagai terorisme, meskipun Huntington sendiri tidak memberikan batasan-batasan “militan” sehingga Islam militan yang dimaksud itupun akan menajdi bias dan berpotensi melebar. AS pun juga selalu berkampanye bahwa Islam militan adalah terorisme.

Terorisme selalu berawal dari radikalisme. Radikalisme dalam konteks sebab memahami teks dan norma agama secara dangkal. Radikalisme dalam konteks sebab terjebak pada situasi politik dan hegemoni Barat. Radikalisme dalam konteks sebab tidak puas dengan kinerja pemerintah dan ingin mengadakan revolusi secara besar-besaran.

Adian Husaini (2004) dalam sebuah artikelnya menjelaskan bahwa banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Maka dari itu, sangat naif bagi Huntington yang justru mencoba menampilkan fakta yang tidak adil dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rethoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.” Di sisi lain, aksi terorisme oleh kalangan Islam militan dan radikal ini juga menuai protes dari kalangan Muslim moderat, meskipun kalangan Muslim moderat juga berpandangan bahwa terorisme ini juga termasuk pada konspirasi global untuk menghancurkan Islam.

Menampilkan wajah Islam sebagai rahmat

Islam yang berasal dari kata “salima” yang berarti selamat, merupakan agama yang menjamin keselamatan bagi siapapun baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, sabda Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang dinamakan Islam itu apabila orang lain dapat selamat dari ucapan dan tindakan orang Islam itu. Perang dalam sejarah perkembangan Islam pun harus dimaknai secara kontekstual, termasuk penafsiran terhadap ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah SWT pun berfirman bahwa Dia mengutus Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam sempurna sebagai rahmat untuk seluruh alam. Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Maka, wajah asli Islam adalah penuh kelembutan, toleransi, dan menyejukkan. Bahkan, dalam Q.S. An Nahl ayat 125 pun dikatakan mengenai cara berdakwah yang sama sekali tidak diperintahkan untuk perang.

Satu hal yang salah dipahami oleh Muslim radikal bahwa makna berdakwah itu adalah mengajak, bukan memaksa. Mereka memahami makna dakwah bahwa kelompok lain wajib dan harus mengikuti jalur pemikiran mereka. Dakwah berasal dari kata “dâ’a” yang berarti mengajak. Mengajak inipun juga sudah diatur dalam Q.S. An Nahl ayat 125 tersebut, yaitu dengan cara hikmah (perkataan yang baik, jelas, tegas, dan benar), mau’idhah al hasanah (pelajaran yang baik) dan mujadalah bi al lati hiya ahsan (membantah dengan cara yang baik). Dalam kalimat selanjutnya pun dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Hal ini mengindikasikan penekanan bahwa berdakwah itu memang dengan cara yang baik dan benar, serta kemauan orang untuk mengikuti jalan Islam itu hanya ditentukan oleh hidayah Allah SWT. Bukan kemudian dijuluki dengan “sesat”.

Selain itu, kisah-kisah menyejukkan dalam Islam yang bernuansa kedamaian pun jarang diangkat untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya. Seperti misalkan kisah Nabi Muhammad SAW yang menolak penawaran malaikat untuk menghancurkan kaum kafir dalam perang Uhud, kisah Nabi Muhammad SAW yang justru menjenguk orang yang meludahi beliau setiap hari, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang tidak jadi menghunuskan pedang ke musuh karena diludahi oleh lawan, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang kalah dalam pengadilan dalam kasus pencurian baju perangnya sehingga pencuri justru masuk Islam, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan kuda kepada Raja Richard The Great karena Raja Richard dijatuhkan oleh anak buah Shalahuddin al-Ayyubi, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan dokter kepada Raja Richard yang sedang sakit, dan kisah lainnya.

Menampilkan wajah Islam yang moderat inipun menjadi tugas berat, terutama bagi elemen bangsa Indonesia yang belum tertular virus radikalisme atas nama agama. Konsep Islam Nusantara pun akan diuji dan harus dioperasionalkan. Pemerintah jangan hanya berusaha menangkis gerakan radikalisme dan terorisme dengan menghancurkan kelompok-kelompok mereka. Namun, juga dengan berupaya memperbaiki kondisi bangsa dan kinerja pemerintah sehingga lebih mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, mengingat salah satu faktor penyebab radikalisme dan terorisme adalah faktor politik dan ketidakpuasan terhadap berbagai penyelesaian masalah yang dilakukan oleh pemerintah dan politik global.

Tugas berat bagi kalangan Muslim moderat, harus gencar dalam menanamkan nilai Islam yang humanis dalam tataran akar rumput. Misalkan, memajukan TPA (Tempat Pendidikan Al-Qur’an) dan pengajian serta majelis-majelis yang diisi dengan internalisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan deradikalisasi. TPA, pengajian, dan majelis ta’lim ini merupakan tempat yang jitu dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman karena sasaran dari TPA, pengajian, dan majelis adalah masyarakat akar rumput.

Kajian terhadap bentuk negara, menceritakan kembali mengenai perjuangan para ulama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kajian terhadap hubungan Islam dengan konstitusi, dan kajian mengenai sahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia juga harus diintensifkan. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahwa Islam harus dibumikan sehingga mampu memberdayakan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang dibumikan ini akan menjadi nilai universal yang mampu menyelesaikan persoalan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang tidak kaku dan tidak tergantung pada bentuk, sehingga dapat diimplementasikan dalam kerangka kebajikan apapun dan dalam dimensi waktu kapanpun. Menampilkan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin inipun akan menghindarkan kaum Muslim dari jebakan Huntington, sehingga Islam tidak dipandang radikal dan teroris. Wallahu a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. bergiat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah 2013—2016

Oleh Ahmad Saifuddin*
Radikalisme atas nama agama tidak akan pernah habis dibicarakan. Sampai saat ini, berita-berita harian baik media televisi maupun di media cetak, sebagian masih diisi dengan berita terorisme. Belum lagi mengenai konflik-konflik di Timur Tengah yang salah satunya disebabkan oleh pemahaman yang fundamental dan radikal terhadap permasalahan politik, keagamaan dan kehidupan. <>Pada akhir tahun 2015, Densus 88 mengadakan penangkapan terduga teroris di beberapa daerah, misalkan di Cilacap, Sukoharjo, Mojokerto, dan Bekasi. Sebagian elemen di Indonesia pun secara terang-terangan menolak keberadaan aliran radikal atas nama agama.

Di sisi lain, banyak kelompok radikal atas nama agama yang hendak mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945 dengan khilafah, meskipun NKRI dan UUD 1945 merupakan produk dari ulama-ulama Indonesia yang berjuang melawan dan mengusir penjajah, sampai merumuskan dasar negara dan bentuk negara Indonesia ini.

Metamorfosis

Sejatinya, radikalisme atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada sampai kelak. Salah satunya hadits yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirah (HR Bukhari 3341, HR Muslim 1773) dan hadits yang menceritakan mengenai ciri-ciri kelompok radikal (HR Bukhari nomor 7123, Juz 6 halaman 20748; Sunan an-Nasai bab Man Syahara Saifahu 12/ 474 nomor 4034; Musnad Ahmad bab Hadits Abi Barzakh al-Aslami 40/ 266 nomor 18947).

Dalam sejarah perkembangan Islam, dikenal kemudian firqah yang bernama Khawarij. Khawarij ini muncul sebagai respon ketidakksepakatan terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang ditempuh Khalifah ‘Ali Ibn Abu Thalib dalam penyelesaian peperangan Shiffin dengan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam perjalanannya, Khawarij ini dapat ditumpas. Namun, pemikirannya bermetamorfosis dalam berbagai bentuk firqah. Sehingga, sampai sekarang pun masih banyak ditemukan pemikiran yang benar-benar fanatik, tekstual, dan fundamental. Kalangan yang pendapatnya berbeda dengannya maka akan diberikan stempel “kafir”, “bid’ah”, dan “sesat”.

Dalam tataran kenegaraan pun, juga terdapat kelompok radikal yang selalu mengangkat isu khilafah (satu pemerintahan atas nama Islam). Setiap permasalahan negara selalu dibawa ke ranah khilafah. Bahkan, ada kalangan yang menganggap pemerintahan selain khilafah adalah thaghut. Meskipun, bentuk negara ini merupakan perkara yang ijtihadi (diperlukan ijtihad dan tidak mutlak).

Kalangan-kalangan radikal ini pun sangat gencar menyuntikkan paradigma-paradigmanya sehingga tidak sedikit kalangan muda yang terbius oleh paradigma-paradigma semu tersebut. Didorong oleh pahala dan surga, kalangan muda banyak yang mendukung gerakan-gerakan radikal tersebut. Bahkan, banyak kalangan muda yang bersedia menjadi pihak bom bunuh diri.  Ironisnya, bekal keagamaan mereka pun belum dapat dikatakan mencukupi (belum ‘alim dan faqih), namun mereka sudah gencar berdakwah atas perspektif yang mereka pelajari sendiri. Model gerakan mereka pun sangat masif dan terkoordinir dengan baik sehingga mampu memengaruhi hampir seluruh lapisan masyarakat. Sehingga, paradigma ini harus menjadi perhatian serius.

Akar masalah

Scott M. Thomas (2005) dalam bukunya The Global Resurgence of Religion and The Transformation of International Relation, The Struggle for the Soul of the Twenty-First Century halaman 24 mengemukakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal biasanya terkait dengan faktor ideologi dan agama. Istilah radikalisme adalah hasil labelisasi terhadap gerakan-gerakan keagamaan dan politik yang memiliki ciri pembeda dengan gerakan keagamaan dan politik mainstream. Gerakan radikalisme yang terkait dengan agama sebenarnya lebih terkait dengan a community of believers ketimbang body of believe.

Ernest Gelner (1981) dalam bukunya Muslim Society halaman 4 mengatakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal yang dikaitkan dengan komunitas Muslim dipahami sebagai cara  bagi komunitas Muslim  tertentu dalam mengembangkan nilai-nilai keyakinan akibat desakan penguasa, kolonialisme maupun westernisasi. Di lain pihak, Mudhofir dan Syamsul Bakri (2005) menjelaskan dalam bukunya Memburu Setan Dunia, Ikhtiyar Meluruskan Persepsi Barat dan Islam tentang Terorisme halaman 93—95 bahwa radikalisme modern muncul biasanya disebabkan oleh tekanan politik penguasa, kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan implementasinya di dalam kehidupan masyarakat serta sebagai respon terhadap hegemoni Barat.

Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999–2004, dalam buku Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia (2009), setidaknya ada tiga teori yang menyebabkan adanya gerakan radikal dan tumbuh suburnya gerakan transnasional ekspansif. Pertama, adalah kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Kedua, adalah dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Kashmir, dan Palestina. Ketiga, dalam lingkup Indonesia, adalah kegagalan negara mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.

Dalam suatu artikelnya, Adian Husaini (2004) mengutip dan menganalisis beberapa pendapat Samuel P. Huntington yang menulis buku berjudul “Who Are We? : The Challenges to America’s National Identity” pada tahun 2004. Huntington menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam – yang ia tambah dengan predikat “militan”. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi “Islam militan” melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.

Hal ini membuktikan bahwa Islam secara tidak langsung diciptakan (dijebak) sebagai teroris sehingga persepsi terhadap Islam pun menjadi buruk dan mengerucut bahwa Islam adalah teroris. Definisi “Islam militan” yang tanpa batasan tersebut kemudian merugikan umat Islam secara keseluruhan.

Radikalisme dan terorisme

Radikalisme atas nama agama ini tidak jarang kemudian menimbulkan konflik sampai pada puncaknya, yaitu terorisme dalam taraf membahayakan stabilitas dan keamanan negara. Pada akhirnya, radikalisme ini menyebabkan peperangan yang justru menimbulkan rasa tidak aman. Pada taraf terendah, radikalisme sampai mengganggu keharmonisan dan kerukunan masyarakat. Klaim “sesat”, “bid’ah”, dan “kafir” bagi kalangan yang tidak sependapat dengannya membuat masyarakat menjadi resah. Ironisnya, keresahan tersebut dianggap sebagai tantangan dakwah oleh kaum radikalis.

Permasalahan radikalisme dan terorisme yang saling keterkaitan ini pun sangat kompleks. Buku Samuel P. Huntington tersebut mempengaruhi AS untuk menciptakan Islam militan sebagai terorisme, meskipun Huntington sendiri tidak memberikan batasan-batasan “militan” sehingga Islam militan yang dimaksud itupun akan menajdi bias dan berpotensi melebar. AS pun juga selalu berkampanye bahwa Islam militan adalah terorisme.

Terorisme selalu berawal dari radikalisme. Radikalisme dalam konteks sebab memahami teks dan norma agama secara dangkal. Radikalisme dalam konteks sebab terjebak pada situasi politik dan hegemoni Barat. Radikalisme dalam konteks sebab tidak puas dengan kinerja pemerintah dan ingin mengadakan revolusi secara besar-besaran.

Adian Husaini (2004) dalam sebuah artikelnya menjelaskan bahwa banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Maka dari itu, sangat naif bagi Huntington yang justru mencoba menampilkan fakta yang tidak adil dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rethoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.” Di sisi lain, aksi terorisme oleh kalangan Islam militan dan radikal ini juga menuai protes dari kalangan Muslim moderat, meskipun kalangan Muslim moderat juga berpandangan bahwa terorisme ini juga termasuk pada konspirasi global untuk menghancurkan Islam.

Menampilkan wajah Islam sebagai rahmat

Islam yang berasal dari kata “salima” yang berarti selamat, merupakan agama yang menjamin keselamatan bagi siapapun baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, sabda Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang dinamakan Islam itu apabila orang lain dapat selamat dari ucapan dan tindakan orang Islam itu. Perang dalam sejarah perkembangan Islam pun harus dimaknai secara kontekstual, termasuk penafsiran terhadap ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah SWT pun berfirman bahwa Dia mengutus Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam sempurna sebagai rahmat untuk seluruh alam. Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Maka, wajah asli Islam adalah penuh kelembutan, toleransi, dan menyejukkan. Bahkan, dalam Q.S. An Nahl ayat 125 pun dikatakan mengenai cara berdakwah yang sama sekali tidak diperintahkan untuk perang.

Satu hal yang salah dipahami oleh Muslim radikal bahwa makna berdakwah itu adalah mengajak, bukan memaksa. Mereka memahami makna dakwah bahwa kelompok lain wajib dan harus mengikuti jalur pemikiran mereka. Dakwah berasal dari kata “dâ’a” yang berarti mengajak. Mengajak inipun juga sudah diatur dalam Q.S. An Nahl ayat 125 tersebut, yaitu dengan cara hikmah (perkataan yang baik, jelas, tegas, dan benar), mau’idhah al hasanah (pelajaran yang baik) dan mujadalah bi al lati hiya ahsan (membantah dengan cara yang baik). Dalam kalimat selanjutnya pun dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Hal ini mengindikasikan penekanan bahwa berdakwah itu memang dengan cara yang baik dan benar, serta kemauan orang untuk mengikuti jalan Islam itu hanya ditentukan oleh hidayah Allah SWT. Bukan kemudian dijuluki dengan “sesat”.

Selain itu, kisah-kisah menyejukkan dalam Islam yang bernuansa kedamaian pun jarang diangkat untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya. Seperti misalkan kisah Nabi Muhammad SAW yang menolak penawaran malaikat untuk menghancurkan kaum kafir dalam perang Uhud, kisah Nabi Muhammad SAW yang justru menjenguk orang yang meludahi beliau setiap hari, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang tidak jadi menghunuskan pedang ke musuh karena diludahi oleh lawan, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang kalah dalam pengadilan dalam kasus pencurian baju perangnya sehingga pencuri justru masuk Islam, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan kuda kepada Raja Richard The Great karena Raja Richard dijatuhkan oleh anak buah Shalahuddin al-Ayyubi, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan dokter kepada Raja Richard yang sedang sakit, dan kisah lainnya.

Menampilkan wajah Islam yang moderat inipun menjadi tugas berat, terutama bagi elemen bangsa Indonesia yang belum tertular virus radikalisme atas nama agama. Konsep Islam Nusantara pun akan diuji dan harus dioperasionalkan. Pemerintah jangan hanya berusaha menangkis gerakan radikalisme dan terorisme dengan menghancurkan kelompok-kelompok mereka. Namun, juga dengan berupaya memperbaiki kondisi bangsa dan kinerja pemerintah sehingga lebih mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, mengingat salah satu faktor penyebab radikalisme dan terorisme adalah faktor politik dan ketidakpuasan terhadap berbagai penyelesaian masalah yang dilakukan oleh pemerintah dan politik global.

Tugas berat bagi kalangan Muslim moderat, harus gencar dalam menanamkan nilai Islam yang humanis dalam tataran akar rumput. Misalkan, memajukan TPA (Tempat Pendidikan Al-Qur’an) dan pengajian serta majelis-majelis yang diisi dengan internalisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan deradikalisasi. TPA, pengajian, dan majelis ta’lim ini merupakan tempat yang jitu dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman karena sasaran dari TPA, pengajian, dan majelis adalah masyarakat akar rumput.

Kajian terhadap bentuk negara, menceritakan kembali mengenai perjuangan para ulama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kajian terhadap hubungan Islam dengan konstitusi, dan kajian mengenai sahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia juga harus diintensifkan. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahwa Islam harus dibumikan sehingga mampu memberdayakan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang dibumikan ini akan menjadi nilai universal yang mampu menyelesaikan persoalan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang tidak kaku dan tidak tergantung pada bentuk, sehingga dapat diimplementasikan dalam kerangka kebajikan apapun dan dalam dimensi waktu kapanpun. Menampilkan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin inipun akan menghindarkan kaum Muslim dari jebakan Huntington, sehingga Islam tidak dipandang radikal dan teroris. Wallahu a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. bergiat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah 2013—2016

Oleh Ahmad Saifuddin*
Radikalisme atas nama agama tidak akan pernah habis dibicarakan. Sampai saat ini, berita-berita harian baik media televisi maupun di media cetak, sebagian masih diisi dengan berita terorisme. Belum lagi mengenai konflik-konflik di Timur Tengah yang salah satunya disebabkan oleh pemahaman yang fundamental dan radikal terhadap permasalahan politik, keagamaan dan kehidupan. <>Pada akhir tahun 2015, Densus 88 mengadakan penangkapan terduga teroris di beberapa daerah, misalkan di Cilacap, Sukoharjo, Mojokerto, dan Bekasi. Sebagian elemen di Indonesia pun secara terang-terangan menolak keberadaan aliran radikal atas nama agama.

Di sisi lain, banyak kelompok radikal atas nama agama yang hendak mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945 dengan khilafah, meskipun NKRI dan UUD 1945 merupakan produk dari ulama-ulama Indonesia yang berjuang melawan dan mengusir penjajah, sampai merumuskan dasar negara dan bentuk negara Indonesia ini.

Metamorfosis

Sejatinya, radikalisme atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada sampai kelak. Salah satunya hadits yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirah (HR Bukhari 3341, HR Muslim 1773) dan hadits yang menceritakan mengenai ciri-ciri kelompok radikal (HR Bukhari nomor 7123, Juz 6 halaman 20748; Sunan an-Nasai bab Man Syahara Saifahu 12/ 474 nomor 4034; Musnad Ahmad bab Hadits Abi Barzakh al-Aslami 40/ 266 nomor 18947).

Dalam sejarah perkembangan Islam, dikenal kemudian firqah yang bernama Khawarij. Khawarij ini muncul sebagai respon ketidakksepakatan terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang ditempuh Khalifah ‘Ali Ibn Abu Thalib dalam penyelesaian peperangan Shiffin dengan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam perjalanannya, Khawarij ini dapat ditumpas. Namun, pemikirannya bermetamorfosis dalam berbagai bentuk firqah. Sehingga, sampai sekarang pun masih banyak ditemukan pemikiran yang benar-benar fanatik, tekstual, dan fundamental. Kalangan yang pendapatnya berbeda dengannya maka akan diberikan stempel “kafir”, “bid’ah”, dan “sesat”.

Dalam tataran kenegaraan pun, juga terdapat kelompok radikal yang selalu mengangkat isu khilafah (satu pemerintahan atas nama Islam). Setiap permasalahan negara selalu dibawa ke ranah khilafah. Bahkan, ada kalangan yang menganggap pemerintahan selain khilafah adalah thaghut. Meskipun, bentuk negara ini merupakan perkara yang ijtihadi (diperlukan ijtihad dan tidak mutlak).

Kalangan-kalangan radikal ini pun sangat gencar menyuntikkan paradigma-paradigmanya sehingga tidak sedikit kalangan muda yang terbius oleh paradigma-paradigma semu tersebut. Didorong oleh pahala dan surga, kalangan muda banyak yang mendukung gerakan-gerakan radikal tersebut. Bahkan, banyak kalangan muda yang bersedia menjadi pihak bom bunuh diri.  Ironisnya, bekal keagamaan mereka pun belum dapat dikatakan mencukupi (belum ‘alim dan faqih), namun mereka sudah gencar berdakwah atas perspektif yang mereka pelajari sendiri. Model gerakan mereka pun sangat masif dan terkoordinir dengan baik sehingga mampu memengaruhi hampir seluruh lapisan masyarakat. Sehingga, paradigma ini harus menjadi perhatian serius.

Akar masalah

Scott M. Thomas (2005) dalam bukunya The Global Resurgence of Religion and The Transformation of International Relation, The Struggle for the Soul of the Twenty-First Century halaman 24 mengemukakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal biasanya terkait dengan faktor ideologi dan agama. Istilah radikalisme adalah hasil labelisasi terhadap gerakan-gerakan keagamaan dan politik yang memiliki ciri pembeda dengan gerakan keagamaan dan politik mainstream. Gerakan radikalisme yang terkait dengan agama sebenarnya lebih terkait dengan a community of believers ketimbang body of believe.

Ernest Gelner (1981) dalam bukunya Muslim Society halaman 4 mengatakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal yang dikaitkan dengan komunitas Muslim dipahami sebagai cara  bagi komunitas Muslim  tertentu dalam mengembangkan nilai-nilai keyakinan akibat desakan penguasa, kolonialisme maupun westernisasi. Di lain pihak, Mudhofir dan Syamsul Bakri (2005) menjelaskan dalam bukunya Memburu Setan Dunia, Ikhtiyar Meluruskan Persepsi Barat dan Islam tentang Terorisme halaman 93—95 bahwa radikalisme modern muncul biasanya disebabkan oleh tekanan politik penguasa, kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan implementasinya di dalam kehidupan masyarakat serta sebagai respon terhadap hegemoni Barat.

Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999–2004, dalam buku Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia (2009), setidaknya ada tiga teori yang menyebabkan adanya gerakan radikal dan tumbuh suburnya gerakan transnasional ekspansif. Pertama, adalah kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar. Kedua, adalah dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Kashmir, dan Palestina. Ketiga, dalam lingkup Indonesia, adalah kegagalan negara mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.

Dalam suatu artikelnya, Adian Husaini (2004) mengutip dan menganalisis beberapa pendapat Samuel P. Huntington yang menulis buku berjudul “Who Are We? : The Challenges to America’s National Identity” pada tahun 2004. Huntington menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam – yang ia tambah dengan predikat “militan”. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi “Islam militan” melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.

Hal ini membuktikan bahwa Islam secara tidak langsung diciptakan (dijebak) sebagai teroris sehingga persepsi terhadap Islam pun menjadi buruk dan mengerucut bahwa Islam adalah teroris. Definisi “Islam militan” yang tanpa batasan tersebut kemudian merugikan umat Islam secara keseluruhan.

Radikalisme dan terorisme

Radikalisme atas nama agama ini tidak jarang kemudian menimbulkan konflik sampai pada puncaknya, yaitu terorisme dalam taraf membahayakan stabilitas dan keamanan negara. Pada akhirnya, radikalisme ini menyebabkan peperangan yang justru menimbulkan rasa tidak aman. Pada taraf terendah, radikalisme sampai mengganggu keharmonisan dan kerukunan masyarakat. Klaim “sesat”, “bid’ah”, dan “kafir” bagi kalangan yang tidak sependapat dengannya membuat masyarakat menjadi resah. Ironisnya, keresahan tersebut dianggap sebagai tantangan dakwah oleh kaum radikalis.

Permasalahan radikalisme dan terorisme yang saling keterkaitan ini pun sangat kompleks. Buku Samuel P. Huntington tersebut mempengaruhi AS untuk menciptakan Islam militan sebagai terorisme, meskipun Huntington sendiri tidak memberikan batasan-batasan “militan” sehingga Islam militan yang dimaksud itupun akan menajdi bias dan berpotensi melebar. AS pun juga selalu berkampanye bahwa Islam militan adalah terorisme.

Terorisme selalu berawal dari radikalisme. Radikalisme dalam konteks sebab memahami teks dan norma agama secara dangkal. Radikalisme dalam konteks sebab terjebak pada situasi politik dan hegemoni Barat. Radikalisme dalam konteks sebab tidak puas dengan kinerja pemerintah dan ingin mengadakan revolusi secara besar-besaran.

Adian Husaini (2004) dalam sebuah artikelnya menjelaskan bahwa banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Maka dari itu, sangat naif bagi Huntington yang justru mencoba menampilkan fakta yang tidak adil dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rethoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.” Di sisi lain, aksi terorisme oleh kalangan Islam militan dan radikal ini juga menuai protes dari kalangan Muslim moderat, meskipun kalangan Muslim moderat juga berpandangan bahwa terorisme ini juga termasuk pada konspirasi global untuk menghancurkan Islam.

Menampilkan wajah Islam sebagai rahmat

Islam yang berasal dari kata “salima” yang berarti selamat, merupakan agama yang menjamin keselamatan bagi siapapun baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, sabda Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang dinamakan Islam itu apabila orang lain dapat selamat dari ucapan dan tindakan orang Islam itu. Perang dalam sejarah perkembangan Islam pun harus dimaknai secara kontekstual, termasuk penafsiran terhadap ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah SWT pun berfirman bahwa Dia mengutus Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam sempurna sebagai rahmat untuk seluruh alam. Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Maka, wajah asli Islam adalah penuh kelembutan, toleransi, dan menyejukkan. Bahkan, dalam Q.S. An Nahl ayat 125 pun dikatakan mengenai cara berdakwah yang sama sekali tidak diperintahkan untuk perang.

Satu hal yang salah dipahami oleh Muslim radikal bahwa makna berdakwah itu adalah mengajak, bukan memaksa. Mereka memahami makna dakwah bahwa kelompok lain wajib dan harus mengikuti jalur pemikiran mereka. Dakwah berasal dari kata “dâ’a” yang berarti mengajak. Mengajak inipun juga sudah diatur dalam Q.S. An Nahl ayat 125 tersebut, yaitu dengan cara hikmah (perkataan yang baik, jelas, tegas, dan benar), mau’idhah al hasanah (pelajaran yang baik) dan mujadalah bi al lati hiya ahsan (membantah dengan cara yang baik). Dalam kalimat selanjutnya pun dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Hal ini mengindikasikan penekanan bahwa berdakwah itu memang dengan cara yang baik dan benar, serta kemauan orang untuk mengikuti jalan Islam itu hanya ditentukan oleh hidayah Allah SWT. Bukan kemudian dijuluki dengan “sesat”.

Selain itu, kisah-kisah menyejukkan dalam Islam yang bernuansa kedamaian pun jarang diangkat untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya. Seperti misalkan kisah Nabi Muhammad SAW yang menolak penawaran malaikat untuk menghancurkan kaum kafir dalam perang Uhud, kisah Nabi Muhammad SAW yang justru menjenguk orang yang meludahi beliau setiap hari, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang tidak jadi menghunuskan pedang ke musuh karena diludahi oleh lawan, kisah ‘Ali ibn Abu Thalib yang kalah dalam pengadilan dalam kasus pencurian baju perangnya sehingga pencuri justru masuk Islam, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan kuda kepada Raja Richard The Great karena Raja Richard dijatuhkan oleh anak buah Shalahuddin al-Ayyubi, kisah Shalahuddin al-Ayyubi yang mengirimkan dokter kepada Raja Richard yang sedang sakit, dan kisah lainnya.

Menampilkan wajah Islam yang moderat inipun menjadi tugas berat, terutama bagi elemen bangsa Indonesia yang belum tertular virus radikalisme atas nama agama. Konsep Islam Nusantara pun akan diuji dan harus dioperasionalkan. Pemerintah jangan hanya berusaha menangkis gerakan radikalisme dan terorisme dengan menghancurkan kelompok-kelompok mereka. Namun, juga dengan berupaya memperbaiki kondisi bangsa dan kinerja pemerintah sehingga lebih mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, mengingat salah satu faktor penyebab radikalisme dan terorisme adalah faktor politik dan ketidakpuasan terhadap berbagai penyelesaian masalah yang dilakukan oleh pemerintah dan politik global.

Tugas berat bagi kalangan Muslim moderat, harus gencar dalam menanamkan nilai Islam yang humanis dalam tataran akar rumput. Misalkan, memajukan TPA (Tempat Pendidikan Al-Qur’an) dan pengajian serta majelis-majelis yang diisi dengan internalisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan deradikalisasi. TPA, pengajian, dan majelis ta’lim ini merupakan tempat yang jitu dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman karena sasaran dari TPA, pengajian, dan majelis adalah masyarakat akar rumput.

Kajian terhadap bentuk negara, menceritakan kembali mengenai perjuangan para ulama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kajian terhadap hubungan Islam dengan konstitusi, dan kajian mengenai sahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia juga harus diintensifkan. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahwa Islam harus dibumikan sehingga mampu memberdayakan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang dibumikan ini akan menjadi nilai universal yang mampu menyelesaikan persoalan umat manusia. Nilai-nilai Islam yang tidak kaku dan tidak tergantung pada bentuk, sehingga dapat diimplementasikan dalam kerangka kebajikan apapun dan dalam dimensi waktu kapanpun. Menampilkan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin inipun akan menghindarkan kaum Muslim dari jebakan Huntington, sehingga Islam tidak dipandang radikal dan teroris. Wallahu a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. bergiat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah 2013—2016

 

Apa sih Skizofrenia itu?


FOTO DARI SETH DOYLE VIA UNSPLASH

Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan pada pikiran, emosi dan perilaku. Meskipun memiliki gangguan yang sama, setiap orang dengan skizofrenia memperlihatkan gejala yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan skizofrenia bersifat unik di masing-masing penderitanya. Seseorang dengan skizofrenia tentu berbeda dari orang lain dengan skizofrenia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2016 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 21 juta orang dengan Skizofrenia (ODS). Gangguan skizofrenia terkadang dapat muncul pada masa anak-anak, namun lebih sering muncul pada remaja akhir atau awal dewasa. Lantas, apa sih hal yang membuat seseorang didiagnosis dengan gangguan ini? ODS dapat menunjukkan beberapa gejala yaitu gejala positif, gejala negatif, gejala disorganisasi dan tingkah laku.

Delusi dan halusinasi adalah gejala positif pada orang dengan skizofrenia

Gejala positif merupakan gejala yang muncul pada orang dengan skizofrenia, namun tidak muncul di individu pada umumnya. Gejala ini terdiri dari delusi dan halusinasi. Delusi merupakan kepercayaan yang tidak sesuai dengan realita. Kepercayaan ini cenderung dipegang kuat oleh ODS meskipun tidak ada bukti yang mendukung kepercayaan tersebut. Beberapa bentuk dari delusi adalah:

  1. Grandiose delusions: percaya bahwa dirinya punya kekuatan, kemampuan, dan kepintaran yang berlebihan.
  2. Thought insertion: percaya bahwa pikiran yang bukan milikinya telah dimasukkan ke dalam kepalanya oleh sumber eksternal.
  3. Thought broadcasting: percaya bahwa pikiran yang ia miliki disiarkan sehingga diketahui oleh orang lain.
  4. Ideas of reference: menggabungkan kejadian tidak penting menjadi pola pikir berkhayal & memaknai kegiatan biasa orang lain sebagai sesuatu yang personal.
  5. Percaya bahwa kekuatan lain mengendalikan perasaan dan perilaku dirinya.

Sedangkan pada bentuk gejala positif yang kedua, yaitu halusinasi, dapat dialami seseorang dalam bentuk pengalaman panca indera seperti suara dan sentuhan tanpa adanya stimulus. Aktivitas lebih pada area Broca, penghubung lobus dalam otak disinyalir menjadi penyebab halusinasi.

Selain gejala positif, terdapat pula gejala negatif 

Gejala negatif mencakup:

  1. Avolition: kurangnya motivasi dan minat atau mempertahankan diri pada rutinitas seperti sekolah, pekerjaan, hobi yang ditekuni, bersosialisasi dengan orang lain, dan rutinitas lainnya.
  2. Anhedonia: kehilangan minat/penurunan kenikmatan yang dirasakan. Orang dengan skizofrenia mengalami defisit pada kesenangan yang diharapkan pada kejadian-kejadian yang belum terjadi, namun tidak pada kejadian saat ini. Contohnya ia kurang bisa membayangkan bahwa mendapatkan nilai 100 ketika ujian akan sangat menyenangkan bagi dirinya sendiri.
  3. Alogia: adanya pengurangan signifikan pada jumlah kata-kata yang diucapkan. Orang dengan skizofrenia cenderung tidak terlalu banyak berbicara.
  4. Asociality: sulitnya membina hubungan sosial, memiliki ketrampilan sosial yang rendah, tidak berminat pada kehadiran orang lain.
  5. Blunted Affect: kurangnya ekpresi emosi yang ditunjukkan pada orang lain. Akan tetapi ia tetap merasakan emosi, bahkan lebih dari orang tanpa skizofrenia

Baca Juga: Merawat Orangtua dengan Demensia

Gejala lainnya adalah gejala disorganisasi dan tingkah laku

Skizofrenia
FOTO OLEH YNS PLT VIA UNSPLASH

Gejala disorganisasi memiliki dua bentuk yaitu pada cara berbicara dan perilaku

  1. Disorganized Speech: masalah pada mengatur ide dan cara bicara untuk dipahami oleh orang lain. Hal ini berhubungan dengan: 1) loose associations/derailment: bisa berkomunikasi dengan baik dengan pendengar namun sulit menetap pada satu topik saja, 2) ada masalah pada executive functioning.
  2. Disorganized Behavior:kehilangan kemampuan mengatur perilakunya & menyesuaikan perilaku terhadap standar masyarakat, kesulitan melakukan tugas sehari-hari.

Sedangkan gejala tingkah laku terdiri dari katatonia yaitu  melakukan gerakan jari tangan, lengan yang aneh dan rumit secara berulang-ulang, dan catatonic immobility, yaitu menunjukkan postur tidak biasa dan mampu mempertahankan hal tersebut dalam jangka waktu yang lama. Gejala ini dapat dikurangi dengan pemberian obat pada proses motorik yang terganggu

Apa yang harus kita lakukan ketika orang terdekat memiliki ciri-ciri ini?

Punya kenalan atau merasa memiliki ciri-ciri yang sama? Tenang dan jangan panik. Untuk menyebut seseorang memiliki gangguan skizofrenia, diagnosis tersebut harus ditegakkan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater. Hal ini melalui proses pengamatan dan tatap muka secara berkala dan melalui proses tidak tiba-tiba. Kontak psikolog di kotamu dan buatlah janji temu. Selain itu, kamu juga dapat berkonsultasi melalui psikolog diRiliv lho!

REFERENSI

Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2013). Abnormal psychology. Singapore: Wiley.

Hipnoterapi solusi alternatif untuk Psikosomatik


Gangguan Psikosomatik, Merasa Sakit Tapi Ternyata Masalah Jiwa

– detikHealth

 

 

Jakarta – Anthony eksekutif muda berusia 34 tahun itu sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. Anthony juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas.

Anthony bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes bahkan sampai melakukan CT-Scan dan MRI namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal.

Anthony tentunya tidak percaya hal tersebut karena dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Teman-temannya mengatakan mungkin dia stres dengan pekerjaan, tapi Anthony selalu menyangkal hal itu.

Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Anthony disarankan untuk datang ke psikiater khususnya yang bergerak di bidang psikosomatik karena mungkin ada problem psikis yang melatarbelakangi keluhannya. Anthony sempat kesal karena saran itu, dia berkata, “Memangnya saya gila Dok?!”.

Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Anthony memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun. “Saya memang biasa menyimpan apapun kekesalan dan kemarahan saya sendiri,” ujarnya kepada dokter penyakit dalamnya.

Keluhan Psikosomatik

Kasus seperti di atas sebenarnya sering ditemukan di praktek dokter umum dan spesialis. Pasien dengan keluhan fisik yang sangat banyak dan sering berganti-ganti setiap minggunya, biasanya datang pertama kali ke tempat praktek dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.

Dokter biasanya akan memeriksa fisik pasien dengan keluhan seperti ini dan menyarankan beberapa tes penunjang. Tapi hampir tidak pernah ditemukan kelainan fisik yang mendasari keluhannya. Begitu juga dengan hasil tes penunjang seperti laboratorium, radiologi (rontgen, CT-Scan atau MRI) atau bahkan sampai endoskopi, tidak ditemukan kelainan pada pasien.

Bila sudah begini biasanya dokter umum atau spesialis lain akan merujuk pasien dengan keluhan seperti ini untuk datang ke psikiater supaya dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut. Namun tentunya tidak mudah meminta pasien untuk menuruti saran ini.

Beberapa di antaranya malah merasa bahwa dokternya tidak mampu mengobati dirinya. Selanjutnya pasien akan mencari dokter lain untuk mencoba mengobati ‘penyakitnya’ ini. Tidak heran pasien biasanya memiliki rekam medik yang sangat tebal dan mempunyai beberapa dokter sekaligus.
Gangguan Kejiwaan

Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan.

Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut.

Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tdak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.

Apa Yang Harus Dilakukan ?

Pasien atau keluarga pasien yang mengalami hal ini dapat segera datang untuk bertemu dengan psikiater. Penjelasan tentang bagaimana mekanisme stres berpengaruh ke fungsi tubuh akan membantu pasien dalam memahami gangguan Psikosomatik yang dideritanya saat ini.

Walaupun dalam pemeriksaan klinis dan penunjang tidak didapatkan keluhan, pasien dengan keluhan ini mengalami suatu disfungsi di sistem saraf pusat terutama di sistem saraf otonom dan jaras hipotalamus pituitary adrenal (HPA Axis). Kondisi ini telah diteliti oleh ilmuwan di Amerika Serikat dan memang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan secara umum.

Pengobatan dengan pendekatan psikoterapi dan penggunaan obat dengan dosis yang tepat dan dalam jangka waktu tertentu akan membantu pasien menghadapi keadaan gangguan Psikosomatiknya dan akhirnya dapat berfungsi secara baik kembali.

Agar doa dikabulkan gunakan Law Of Attractions


Terkabulnya doa “The Law of attraction”

24 Januari 2014   10:10 Diperbarui: 24 Januari 2014   10:10

1 0 0

Hukum alam (The Universal Laws) atau Sunnatullah adalah sebuah hukum yang telah ditetapkan oleh pencipta tentang bagaimana alam ini berjalan. Hukum alam menyangkut fisik dan non fisik. Hukum fisik lebih mudah diobservasi untuk menemukan kebenarannya, contoh; Hukum Fisika, kimia dsb telah banyak dirumuskan dan difahami oleh manusia, Sedangkan hukum non fisik, Psichology dsb yang banyak menyangkut aspek spiritual dan emosi juga menganut hukum tertentu sebagaimana hukum2 fisika dan kehidupan manusia di dalamnya. Tetapi hukum ini belum banyak dirumuskan manusia secara ilmiah

Salah satu hukum alam non fisik yang populer saat ini adalah “The Law of attraction”

(Hukum tarik menarik), yang dipopulerkan kembali oleh Rhonda Byrne melalui film dan buku best seller ”the secret”. Studi dari The Law of Attraction telah menyebabkan ribuan orang mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. law of attraction mengupas banyak hal tentang keterikatan manusia dengan semesta yang saling terkoneksi. singkatnya Bahwa apa yang kau pikirkan dengan fokus, apa yang kau minta dengan tulus, harapan2 yang kau panjatkan pada “kekuatan alam semesta” itulah yang akan kau tarik masuk dalam hidupmu.

Contoh :

– jika Thomas Alfa Edison tidak pernah memikirkan sebuah bola kecil yang bisa mengeluarkan cahaya, mungkin kita tidak akan pernah merasakan terangnya lampu

-bila kita berfikir sakit meski badan kita sehat sehat saja maka kitapun benar2 lemah dan rapuh

– secara kebetulan bertemu dengan seseorang yang terlintas dalam ingatan beberapa hari lalu atau secara kebetulan mengalami hal2 yang pernah terlintas dalam fikiran,

– serta tak terhingga jumlahnya orang2 yang rajin tirakat, puasa senin kamis, shalat tahajud dll akhirnya benar-benar tercapai apa yang dinginkan. Coba anda survay disekililing anda

Elizabet Towne mengatakan: “Manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya tarik-menarik (undangan) nya sendiri.

Didalam dunia islam (sufi) hal ini bukanlah sesuatu yang asing. Bahwa Manusia adalah “alam shagir” (alam kecil)yang selalu berkoneksi dengan “alam kabir” atau semesta. so bila kita berfikir positif Terhadap Allah sebagai Pencipta dan inti dari daya/energi yang menggerakkan semesta, maka Dia pun akan bereaksi positif sesuai apa yang kita sangkakan sebagaimana hadits :Aku bersama sangkaan hambaku padaku (HR Bukhori).

 

Aku bersama sangkaan hambaku padaku, jika sangkaannya baik maka baiklah baginya, dan jika sangkaannya buruk maka buruklah baginya (HR Ahmad)

Beberapa bahasan dalam the secret

 

Bagaimana agar hukum tarik menarik bekerja sesuai dengan konsepnya, maka terdapat hal2 yang musti ada;

Percaya

Ketika kita tidak yakin bahwa harapan/doa kita tidak didengar dan diperkenankan olehNYA maka hati kita menjadi gundah dan resah, sehingga menghambat kerja hukum tarik-menarik. Karena itu yang diperlukan adalah keyakinan bahwa doa kita didengar dan diperkenankan olehNya.

setiap diri kita sebenarnya memiliki sebuah database yang super lengkap. database ini berisi segala sesuatu yang tersedia di alam semesta, beraneka ragam, keragamannya tidak terbatas. Apapun yang kita minta semuanya tersedia. Dengan jumlah persediaan yang tidak pernah habis. Kita tinggal membuka database dan memesan apapun yang kita inginkan (Joe vitale)

Allah telah berfirman dalam AlQuran: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS.Alghafir:60).

Tawakkal/berserah diri

Setelah kita memanjatkan harapan-harapan dengan segenap kepercayaan, maka biarkan “Semesta” meresponnya (the secret)

Dalam hal seperti ini. Berperasaan baik adalah hasil dari sikap berserah diri, menyerahkan segala keputusan kepada Allah. Allah lebih tahu mana yang baik untuk kita, maka berserah dirilah.

………..barangsiapa yang bertawakkal (baca:berserah diri) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah adalah dzat yang menuntaskan urusanNya. Sesungguhnya Allah telah menjadikan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS AtTalaq:3).

syukur

Syukur adalah ajaran mendasar dari ajaran-ajaran guru besar sepanjang sejarah.

Dalam buku The Getting rich, ditulis oleh Wallace Wattles,1910, syukur adalah bab terpanjang. The Secret menggunakan syukur sebagai bagian dari harapan mereka

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrohim :7).

sodaqoh
Berderma memberikan uang akan mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup anda. Ketika anda bermurah hati dengan uang dan berperasaan senang untuk berbagi dengan orang lain, sebenarnya anda berkata dalam benak “Saya masih punya banyak uang”. Inilah kuncinya dan anda akan menarik lebih banyak lagi dari Semesta.(the secret, 2006).

Karena itu anda tidak perlu heran dengan rahasia keajaiban sodaqoh yang banyak diungkap oleh ustd. Yusuf Mansyur.

Dalam hal ini Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik niscaya akan dilipatgandakan(pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak(QS.Alhadiid:18)

Kapan waktunya doa kita dikabulkan? sesungguhnya alam semesta merupakan semacam ”buffering” tempat segala harapan dan permintaan kita, semua permintaan akan tertampung dan cepat atau lambat terkabulnya doa tergantung dari kualitas variabel2 diatas.

Tetapi The Secret, Rhonda Byrne, maupun Law Of Attraction, Michael J. Lossier hanya membahas hasrat atau cita-cita. Tidak mendiskusikan take action atau ikhtiar. Dimana keberhasilan tidak datang tanpa usaha, sedangkan usaha tidak akan berhasil tanpa adanya ”keberuntungan” ataupun ”nasib baik” dimana ke-2 hal tsb (keberuntungan/nasib baik) hanya Tuhan yang mampu memberikanya, dan itulah batasan yang dibahas oleh the secret.

Agar tidak salah faham tentang ’kekuatan semesta” dan ”Kekuatan Tuhan”, berikut tulisan saya sebelumnya

Pelawak Qomar di tangkap Palsukan Ijazah S2 dan S3


Ditangkap di Rumahnya, Pelawak Nurul Qomar Dijebloskan ke Tahanan

Imam Suripto – detikNews
Ditangkap di Rumahnya, Pelawak Nurul Qomar Dijebloskan ke TahananNurul Qomar saat menjabat Rektor Umus Brebes. (Foto: Imam Suripto/detikcom)

Brebes – Dedengkot grup lawak Empat Sekawan, Nurul Qomar, ditangkap jajaran Polres Brebes, Jateng, karena dugaan pemalsuan ijazah master dan doktor. Dia dijemput paksa dari rumahnya karena selalu mangkir dari pemeriksaan.

Nurul Qomar ditahan di Mapolres Brebes, sejak Senin (24/6/) malam. Dia tersandung kasus dugaan pemalsuan ijazah S-2 dan S-3 yang dia gunakan untuk syarat mencalonkan Rektor Umus (Universitas Muhadi Setiabudhi) Brebes.

Kasat Reskrim Polres Brebes, AKP Triagung Suryomicho, saat dikonfirmasi membenarkan penahanan terhadap Nurul Qomar sejak Senin malam. Tersangka dijemput paksa dari rumahnya di Cirebon karena beberapa kali dipanggil tidak bersedia datang.

“Yang bersangkutan kita tangkap di rumahnya karena tidak koperatif. Beberapa kali tidak hadir (saat pemanggilan), jadi kita tangkap,” ujar Triagung, Selasa (25/6/2019).

Dedengkot grup lawak Empat Sekawan yang juga eks anggota DPR RI tersebut dinilai melanggar Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

“Tersangka dilaporkan oleh Muhadi Setiabudhi terkait dugaan pemalsuan ijazah S2 dan S3 saat mencalonkan diri sebagai rektor (Umus),” ungkapnya.

Lebih lanjut menurut Kasat Reskrim, ijazah yang dipalsukan oleh tersangka adalah ijazah dari salah satu universitas di Jakarta.(mbr/mbr)

 

 

Berita Terkait

Begini Kondisi Qomar Dalam Tahanan Mapolres Brebes

Personel Kurang, Basarnas Siap Rekrut Purnawirawan TNI-Polri

Harga Anjlok, Peternak Ayam di Magelang Menjerit

Hari ke-6 Pencarian, Ferry Eks Pemain Persis Solo Belum Ditemukan

Pengumuman! Kuota Jalur Prestasi PPDB SD-SMP di Solo Naik Jadi 10%

Begini Kronologi Kasus Pemalsuan Ijazah dan Penangkapan Pelawak Qomar

Aturan Siswa SDN Wajib Berbaju Muslim Viral, Wali Murid Buka Suara

69 Desa di Boyolali Akan Gelar Pilkada Serentak Pakai e-Voting

Tidak Lama Lagi Trend bisnis akan beralih ke OnLine


Polisi Pasti bertindak tegas thd kelompok2 anti demokrasi yg selaku memicu rusuh negri ini


  1. Selebaran Halal Bi Halal Akbar 212 di Sekitar MK, Polisi Tak Beri Izin

Selebaran Halal Bi Halal Akbar 212.

Photo :

  • istimewa

Selebaran Halal Bi Halal Akbar 212.

VIVA – Beredar selebaran akan adanya aksi akbar mulai tanggal 24 sampai 28 Juni 2019 di seluruh ruas jalan di sekitar Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Aksi itu bertajuk “Halal Bi Halal Akbar 212”.

Selebaran itu juga menyebut aksi akan digelar selama tanggal tersebut dari jam 09.00 WIB hingga 18.00 WIB setiap hari. Aksi itu disebut akan super damai, berupa kegiatan berzikir, berdoa serta bersolawat.

Terkait hal ini, Polda Metro Jaya menegaskan aksi massal di jalan protokol di depan Gedung MK tidak akan  diperkenankan. Ada aturan yang melarangnya.

“Bahwa aksi di jalan protokol depan MK oleh pihak mana pun dilarang, karena melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Penyampaian Pendapat Dimuka Umum Pasal 6 yang bisa mengganggu ketertiban umum dan hak orang lain,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, saat dikonfirmasi wartawan, Minggu 23 Juni 2019.

Polisi pun mengimbau agar kegiatan itu digelar di tempat lain. Polisi tak mau ambil risiko dari kasus rusuh 22 Mei di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jalan MH Thamrin.

“Belajar dari insiden (kejadian di) Bawaslu, meski disebutkan aksi super damai, tetap saja ada perusuhnya. Diskresi kepolisian disalahgunakan. Silakan Halal Bi Halal dilaksanakan di tempat yang lebih pantas, seperti di gedung atau di rumah masing-masing,” ujarnya.

Lebih lanjut polisi mengimbau semua pihak kiranya tidak melakukan hal-hal yang tak diinginkan jelang dan saat Majelis Hakim di Mahkamah Konstitusi membacakan putusan sengketa hasil Pemilihan Presiden 2019 pekan ini. Polisi berharap semua pihak bisa menahan diri dan menerima hasil yang ada.

“Biarkan hakim MK bekerja tanpa tekanan karena semua persidangannya sudah di-cover banyak media massa secara langsung dan hasil keputusan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME,” kata Argo. (ren)

 

ARTIKEL BERIKUTNYA

 

Harusnya Felix Siaw mengikuti jejak Gus Miftah


Felix Siauw Puji Cara Gus Miftah Mengenalkan Islam Kepada Deddy

Reporter:

Chitra Paramaesti

Editor:

Aisha Shaidra

23 Juni 2019 16:50 WIB

Ustad Felix Siauw memberikan tausiah di Masjid Jami An Nashru, Kelurahan Sukapura, Jakarta Utara. 25 November 2017. Maria Fransisca.

TEMPO.COJakarta – Felix Siauw memuji Gus Miftah yang membimbing Deddy Corbuziermenjadi seorang muslim. Ia mengatakan, pendekatan yang dilakukan Gus Miftah begitu damai dan perlu diapresiasi.

“Dan pada hari ini, layak kiranya @gusmiftah juga mendapat apresiasi, sebab dengan apik memandu @mastercorbuzier, dan menjadi jalan hidayah buat beliau,” tulis Felix dalam keterangan foto di akun Instagramnya, Sabtu, 22 Juni 2019.

Felix menuturkan kekagumannya terhadap cara dakwah Gus Miftah. Menurut Felix, pendekatan yang digunakan Gus Miftah serupa dengan Cak Nun, yang mengajarkan agama Islam lewat pendekatan kearifan lokal. Menurutnya, Islam tidak pernah meniadakan budaya, malah Islam mengakui budaya sebagai ragam dari manusia.

Masuknya Islam ke nusantara, kata Felix, dikarenakan pengetahuan Wali Songo akan budaya lokal begitu luas. Sehingga, mereka mampu melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam melalui pendekatan budaya.
Deddy Corbuzier (kanan) belajar menghapal surat Alfatihah bersama Gus Miftah di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Jumat, 21 Juni 2019. Deddy menyangkal menjadi mualaf karena akan menikah dengan tunangannya yang beragama Islam. Instagram/@Gusmiftah
Menurut Felix, dakwah yang dilakukan para ulama seperi Cak Nun dan Gus Miftah dengan cara pendekatan budaya bukanlah Islam liberal. “Keduanya cerdas dalam berbudaya. Mungkin kita harus pahami ke-Jawa-an, hingga kita tahu bahwa keduanya sangat teguh dalam Islam,” kata dia.

ADVERTISEMENT

Setelah Gus Miftah membimbing Deddy hingga memeluk agama Islam, Felix pun mengapresiasi dan memberi selamat kepada Deddy. “Barakallahu fiikum, love you all @gusmiftah @mastercorbuzier,” tulis dia.

Pada hari Jumat lalu, Deddy Corbuzier yang ditemani oleh kekasihnya, datang ke Pondok Pesantren Gus Miftah, yang berada di Yogyakarta. Usai salat Jumat, Deddy dibimbing Gus Miftah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, yang menandakan Deddy sudah menjadi muslim.

Baca juga: Cerita Gus Miftah Saat Deddy Corbuzier Ikut Salat Berjamaah

CHITRA PARAMAESTI


 

 

Lihat Juga

Wajah Baru Jakarta, Pembangunan Infrastruktur dan Pola Berpikir

TERKAIT

  • Senang Pakai Blangkon, Gus Miftah: Songkok Nasional

    23 jam lalu

  • Cerita Gus Miftah Saat Deddy Corbuzier Ikut Salat Berjamaah

    1 hari lalu

  • Ma’ruf Amin Tak Mau Ubah Nama Deddy Corbuzier: Tambah Ini Saja

    1 hari lalu

  • Deddy Corbuzier Masuk Islam, Mulanya Belajar Jadi Orang Baik

    1 hari lalu

  • Deddy Corbuzier Disebut ‘Anak Saya’ oleh Ma’ruf Amin

    1 hari lalu

Baca Juga

Mengendalikan marah menurut Islam


Marah adalah salah satu sifat buruk yang ada pada diri manusia. Di samping dapat merusak jiwa, marah juga dapat mengganggu kesehatan raga. Sudah banyak penelitian yang menguatkan adanya hubungan kebiasaan marah dengan gangguan jantung.

Seseorang yang sering marah atau marah sudah menjadi gaya hidupnya akan sangat rentan terkena gangguan pada jantung. Oleh karena itu, pantas jika banyak ayat Alquran dan hadis yang menyuruh mengendalikan amarah.

Menurut Alquran, kemampuan mengendalikan amarah (al- Kaazhimiin al-Ghaidh) merupakan salah satu ciri orang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 134). Nabi Muhammad SAW beberapa kali dimintai nasihat oleh seorang laki-laki. Beberapa kali juga beliau menjawab, “Janganlah engkau marah” (HR Bukhari).

Kekuatan seseorang, menurut Rasulullah SAW, tidak diukur dari kekuatan fisiknya, tapi lebih karena kemampuannya mengendalikan amarah. Sebagaimana sabdanya, “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi SAW juga tidak hanya menyuruh mengendalikan amarah, tetapi juga memberi motivasi (targhib) bagi orang yang dapat melakukannya. Menurut Rasulullah SAW, jika seseorang mampu mengendalikan amarahnya, maka ia akan terhindar dari siksa Allah SWT dan pada gilirannya akan dimasukkan ke surga-Nya. Hal tersebut dikuatkan oleh hadis, “… Barang siapa yang mampu menahan amarahnya, Allah akan menahan siksa- Nya” (HR ath-Thabrani). “Kendalikanlah marah, maka kamu akan masuk surga” (HR ath-Thabrani).

Mengendalikan marah artinya mengelola potensi marah sehingga berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Prosesnya mirip dengan imunisasi. Potensi marah ibarat vaksin (virus yang dilemahkan). Ketika vaksin disuntikkan, tubuh tidak menghindar, tapi justru melawan dengan antibodinya sehingga menjadi kebal. Sehingga, ketika suatu saat tubuh terinfeksi oleh virus sejenis, ia tidak akan terpengaruh oleh bahaya virus tersebut karena sudah kebal.

Demikian juga dengan mengendalikan amarah. Potensi marah tidak dihindari, tapi dikelola melalui berpikir positif. Marah tidak dilampiaskan, tetapi ditahan. Upaya ini akan menghasilkan kekebalan jiwa terhadap potensi marah. Sehingga, jika sekali waktu potensi marah sejenis hadir, maka tidak akan membangkitkan marah, bahkan mungkin akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ini artinya penyakit marah sembuh.

Model mengatasi marah di atas berbeda dengan cara kebanyakan ilmuwan Barat dalam mengatasi keadaan marah. Sigmund Freud, seorang psikoanalisis, mengatakan bahwa kemarahan tidak boleh ditahan, tapi harus disalurkan. Menurutnya, emosi (kemarahan) yang tertahan dapat menyebabkan ledakan emosi berlebihan. Maka dari itu, diperlukan sebuah penyaluran atas emosi yang tertahan (katarsis).

Berdasarkan pengalaman, cara mengatasi marah seperti itu tidak mengobatinya, tapi hanya menurunkannya untuk sementara. Artinya, ketika kemarahan disalurkan, tensinya akan turun, bahkan akan hilang. Namun, jika satu saat sumber kemarahan itu ada lagi, kemarahan pun akan bangkit kembali. Wallahu a’lam.

Program Ulang Pikiran Bawah Sadar

%d blogger menyukai ini: