Apa sih Skizofrenia itu?


FOTO DARI SETH DOYLE VIA UNSPLASH

Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan pada pikiran, emosi dan perilaku. Meskipun memiliki gangguan yang sama, setiap orang dengan skizofrenia memperlihatkan gejala yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan skizofrenia bersifat unik di masing-masing penderitanya. Seseorang dengan skizofrenia tentu berbeda dari orang lain dengan skizofrenia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2016 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 21 juta orang dengan Skizofrenia (ODS). Gangguan skizofrenia terkadang dapat muncul pada masa anak-anak, namun lebih sering muncul pada remaja akhir atau awal dewasa. Lantas, apa sih hal yang membuat seseorang didiagnosis dengan gangguan ini? ODS dapat menunjukkan beberapa gejala yaitu gejala positif, gejala negatif, gejala disorganisasi dan tingkah laku.

Delusi dan halusinasi adalah gejala positif pada orang dengan skizofrenia

Gejala positif merupakan gejala yang muncul pada orang dengan skizofrenia, namun tidak muncul di individu pada umumnya. Gejala ini terdiri dari delusi dan halusinasi. Delusi merupakan kepercayaan yang tidak sesuai dengan realita. Kepercayaan ini cenderung dipegang kuat oleh ODS meskipun tidak ada bukti yang mendukung kepercayaan tersebut. Beberapa bentuk dari delusi adalah:

  1. Grandiose delusions: percaya bahwa dirinya punya kekuatan, kemampuan, dan kepintaran yang berlebihan.
  2. Thought insertion: percaya bahwa pikiran yang bukan milikinya telah dimasukkan ke dalam kepalanya oleh sumber eksternal.
  3. Thought broadcasting: percaya bahwa pikiran yang ia miliki disiarkan sehingga diketahui oleh orang lain.
  4. Ideas of reference: menggabungkan kejadian tidak penting menjadi pola pikir berkhayal & memaknai kegiatan biasa orang lain sebagai sesuatu yang personal.
  5. Percaya bahwa kekuatan lain mengendalikan perasaan dan perilaku dirinya.

Sedangkan pada bentuk gejala positif yang kedua, yaitu halusinasi, dapat dialami seseorang dalam bentuk pengalaman panca indera seperti suara dan sentuhan tanpa adanya stimulus. Aktivitas lebih pada area Broca, penghubung lobus dalam otak disinyalir menjadi penyebab halusinasi.

Selain gejala positif, terdapat pula gejala negatif 

Gejala negatif mencakup:

  1. Avolition: kurangnya motivasi dan minat atau mempertahankan diri pada rutinitas seperti sekolah, pekerjaan, hobi yang ditekuni, bersosialisasi dengan orang lain, dan rutinitas lainnya.
  2. Anhedonia: kehilangan minat/penurunan kenikmatan yang dirasakan. Orang dengan skizofrenia mengalami defisit pada kesenangan yang diharapkan pada kejadian-kejadian yang belum terjadi, namun tidak pada kejadian saat ini. Contohnya ia kurang bisa membayangkan bahwa mendapatkan nilai 100 ketika ujian akan sangat menyenangkan bagi dirinya sendiri.
  3. Alogia: adanya pengurangan signifikan pada jumlah kata-kata yang diucapkan. Orang dengan skizofrenia cenderung tidak terlalu banyak berbicara.
  4. Asociality: sulitnya membina hubungan sosial, memiliki ketrampilan sosial yang rendah, tidak berminat pada kehadiran orang lain.
  5. Blunted Affect: kurangnya ekpresi emosi yang ditunjukkan pada orang lain. Akan tetapi ia tetap merasakan emosi, bahkan lebih dari orang tanpa skizofrenia

Baca Juga: Merawat Orangtua dengan Demensia

Gejala lainnya adalah gejala disorganisasi dan tingkah laku

Skizofrenia
FOTO OLEH YNS PLT VIA UNSPLASH

Gejala disorganisasi memiliki dua bentuk yaitu pada cara berbicara dan perilaku

  1. Disorganized Speech: masalah pada mengatur ide dan cara bicara untuk dipahami oleh orang lain. Hal ini berhubungan dengan: 1) loose associations/derailment: bisa berkomunikasi dengan baik dengan pendengar namun sulit menetap pada satu topik saja, 2) ada masalah pada executive functioning.
  2. Disorganized Behavior:kehilangan kemampuan mengatur perilakunya & menyesuaikan perilaku terhadap standar masyarakat, kesulitan melakukan tugas sehari-hari.

Sedangkan gejala tingkah laku terdiri dari katatonia yaitu  melakukan gerakan jari tangan, lengan yang aneh dan rumit secara berulang-ulang, dan catatonic immobility, yaitu menunjukkan postur tidak biasa dan mampu mempertahankan hal tersebut dalam jangka waktu yang lama. Gejala ini dapat dikurangi dengan pemberian obat pada proses motorik yang terganggu

Apa yang harus kita lakukan ketika orang terdekat memiliki ciri-ciri ini?

Punya kenalan atau merasa memiliki ciri-ciri yang sama? Tenang dan jangan panik. Untuk menyebut seseorang memiliki gangguan skizofrenia, diagnosis tersebut harus ditegakkan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater. Hal ini melalui proses pengamatan dan tatap muka secara berkala dan melalui proses tidak tiba-tiba. Kontak psikolog di kotamu dan buatlah janji temu. Selain itu, kamu juga dapat berkonsultasi melalui psikolog diRiliv lho!

REFERENSI

Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2013). Abnormal psychology. Singapore: Wiley.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.