Dosa yang Lebih Besar dari Zina


64selingkuh

Dalam sebuah majilisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah saw. Pernah memberi nasihat berikut.
“ Wahai Abu Dzar, hindari dari melakukan ghibah(menggunjing) karenadosanyalebih berat dari melakukan zina.”
“ Ya Rasulullah, pa itu ghibah ? ““ Ghibah adalah menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.”
“ Ya Rasulullah, walaupun sesuatu itu ada pada dirinya ? “
“ Ya. Apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun apabila kau sebut aibnya yang tidak ada pada dirinya, maka kau telah memfitnahnya.”
Tidak jarang memang seorang mukmin melakukan ghibah, sengaja atau tidak; dihadapan orang yang dihormatinya atau orang yang tidak dihormatinya karena lidah memang tidak bertulang. Ia bisa menari-nari tanpa letihnya. Ia bisa digerakkan oleh tuannya kemanapun hasrat tujuannya. Akan tetapi, orang yang berakal , kata Ali, adalah orang yang meletakkan lidahnya di bawah kontrol akalnya; sementara orang yang jahil adalah orang yang meletakkan akalnya di bawah lidahnya. Orang yang berakal akan berpikir dahulu baru berkata-kata; sementara orang yang  jahilakan berkata dahulu, baru berpikir.
Ketika seseorang datang menjumpai Ali Zainal Abidin dan berkata bahwa si Polan mencacimu bahkan mengatakan bahwa engkau adalah orang sesat dan pelaku bid’ah, Zainal Abidin menjawab, “Wahai Polan, engkau tidak memelihara hak teman semajilismu lantaran menyampaikan omongannya pada kami; dan engkau juga tidak memelihara hakku sebagai teman semajilismu karena telah menyampaikan kepadaku sesuatu tentang saudaraku yang tidak kuketahui. Wahai Polan , berhati-hatilah dari melakukan ghibah karena ia adalah santapan anjing-anjing neraka…”
Ketika ‘Aisyah mengadukan perihal Shafiah, madunya, kepada Nabi bahwa Shafiah itu orangnya pendek, begini dan begitu, Nabi saw. Menjawab, “ Wahai ‘Aisyah, kau telah ucapkan kata-kata yang apabila dicampurkan dengan air laut maka ia akan mengubahnya.”
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, pengarang kitab Hayat Al-Shahabah meriwayatkan sebuah kisah yang terjadi pada diri Khalifah Umar bin Khattab r.a.
“ Suatu malam, ketika Umar sedang berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud memeriksa keadaan sekeliling kota Madinah, tiba-tiba matanya memandang suatu cahaya yang menerangi sebuah rumah. Umar menguntit cahaya itu sehingga ia masuk kedalam rumah penghuninya.Astaghfirullah, di rumah itu ada seorang tua yang sedang meminum arak dan menari-nari dengan hamba perempuannya. Umar masuk dan menghardik perbuatan si tua bangka ini. Katanya, “ Wahai Polan, tidak pernah kusaksikan pemandangan yang lebih buruk dari ini, seorang tua bangka yang sudah lanjut usia, tetapi meminun arak dan menari-nari ? “
Tuan rumah menjawab, “ Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau lakukan adalah lebih buruk dari apa yang telah kausaksikan. Engkau telah mamata-matai privacy orang, padahal Allah telah melarangnya; dan engkau telah masuk kedalam rumahku tanpa seizinku.”
Umar membenarkannya. Dia keluar dari rumah itu dengan amat menyesal atas perbuatannya yang telah di lakukannya. Katanya, “ Sungguh akan celakalah Umar apabila Tuhannya tidak mengampuninya.”
Orang tua ini merasa malu sekali kepada Umar karena kepergok melakukan dosa. Dia khawatir sang khalifah akan menghukumnya atau paling tidak akan mempermalukannya di hadapan publik. Oleh karena itu, lama sekali dia raib dari majilis Umar. Apakah Umar termasuk dalam kategori orang-orang yang mudah membuka aib-aib orang lain ?
Suatu hari dia datang ke majilis Umar secara sembunyi-sembunyi. Dia hanya duduk di bagian paling belakang sambil menundukkan kepala agar sang Khalifah tidak melihatnya. Tiba-tiba Umar memanggilnya dengan suara yang agak keras, “ Wahai Polan, mari duduk di sampingku.”
Orang tua ini merasa gemetar. Pikir dirinya pasti akan dipermalukan oleh Khalifah. Dia tidak bisa menolak. Sebagaimana ia juga tidak akan bisa berlari. Dengan wajah yang pucat pasi dia pasrah menghampiri Umar sambil terus menunduk menyembunyikan rupanya. Umar memaksanya duduk persis di sampingnya. Kemudian berbisik, “ Wahai Polan, demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, tidak pernah kuberi tahu siapa pun tentang apa yang kulihat dalam rumahmu, meskipun kepada Abdullah bin Mas’ud yang kala itu ikut ronda bersamaku.”
Kemudian orang tua ini pun menjawab sambil berbisik, “ Wahai Amirul Mukminin, demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, sejak sampai itu sampai sekarang aku telah tinggalkan pekerjaan-pekerjaan munkarku.”
Tiba-tiba Umar bertakbir dengan suara yang agak keras tanpa di pahami maksudnya oleh hadirin yang ada di sekitarnya.

 

 (Dari buku  Dialog Sufi: Ust Husein Shahab)

Bagaimana salat yang Khusyu?


Salat Khusyu yg dicontohkan Imam Ali Zainal Abidin:

Salat Imam Zainul Abidin as. adalah sebuah manifestasi kepasrahan yang sempurna terhadap Allah swt. dan keterputusan dari alam materi. Ia tidak merasakan sesuatu yang berada di sekitarnya. Bahkan, ia tidak merasakan keberadaan dirinya sendiri. Seluruh kalbunya terpaut kepada Allah secara sempurna. Ketika ingin menjelaskan kondisi salatnya ini, para perawi hadis berkata: “Ketika ingin mengerjakan salat, kulitnya berubah warna. Seluruh anggota tubuhnya gemetar lantaran takut kepada Allah. Pada saat berdiri, ia berdiri bak seorang budak yang hina di hadapan tuannya. Ia mengerjakan salat seperti orang yang mengerjakan salat perpisahan di mana ia tidak akan pernah mengerjakan salat lagi setelah itu.”
Ketika menceritakan kekhusyukan salat ayahnya, Imam Muhammad Al-Bâqir as. berkata: “Ketika Ali bin Husain berdiri mengerjakan salat, ia berdiri bak sepotong batang kayu yang tidak bergerak sama sekali kecuali bagian-bagian kayu yang digerakkan oleh angin.”
Salah satu manifestasi lain dari kekhusyukan salat Imam Ali Zainul Abidin as. adalah ketika sujud, ia tidak mengangkat kepalanya sehingga keringatnya mengucur atau seakan-akan ia merendam di dalam air lantaran air matanya yang mengucur deras.
Para perawi hadis meriwayatkan bahwa Abu Hamzah Ats-Tsumâlî pernah melihat Imam Zainul Abidin as. mengerjakan salat. Jubahnya terjatuh dari salah satu bahunya dan ia tidak membenahinya. Abu Hamzah menanyakan hal itu kepadanya, dan ia menjawab: “Celakalah kamu! Tahukah kamu di hadapan siapakah aku tadi berdiri? Sesungguhnya salat seorang hamba tidak akan diterima kecuali sekadar konsentrasi hati yang dimilikinya.”
Keterpautan hatinya kepada Allah pada saat mengerjakan salat sangat kuat. Ketika salah seorang putranya jatuh ke dalam sumur, penduduk Madinah merasa khawatir dan lalu mereka menyelamatkannya. Pada waktu itu, Imam Zainul Abidin as. sedang mengerjakan salat di dalam mihrab dan tidak menyadari apa yang telah terjadi. Ketika usai salat, ia diberitahukan tentang hal itu. Ia hanya berkata: “Aku tidak merasakan apa-apa. Karena, aku tadi sedang bermunajat dengan Tuhan Yang Maha Agung.”
Pada suatu hari, pernah terjadi kebakaran di rumahnya dan ia sedang mengerjakan salat. Ia tidak merasakan hal itu. Ketika usai mengerjakan salat, ia diberitahukan apa yang telah terjadi. Ia menjawab: “Api neraka yang maha dahsyat telah membuatku lupa akan api tersebut.”
Abdul Karim Al-Qusyairî memiliki sebuah interpretasi untuk realita dahsyat yang senantiasa menyertai Imam Zainul Abidil as. pada saat salat ini. Yaitu realita itu terjadi lantaran hati tidak menyadari apa terjadi pada makhluk sekitar. Hal itu karena panca indera sibuk mengamati apa yang sedang dihadapinya. Hati kadang-kadang tidak menyadari perasaan dirinya sendiri dan hal itu lantaran ia mengingat pahala atau memikirkan siksa.